Jumat, 07 Januari 2011

ISLAMISASI POLITIK BUKAN POLITISASI ISLAM (Prespektif Islam Terhadap Ulama Konsumtif Politik)

Dalam sejarahnya, politik sudah berkembang semenjak awal pemerintahan islam. Hal ini ditengarai dengan munculnya berbagai macam teologi-teologi kontraversional seperti; syiah, khawarij, muktazilah dan sebagainya yang disinyalir merupakan respon dan konsekwensi politik.
Jauh sebelum sebelum teori-teori politik bermunculan, Islam telah menyumbang apresiasi besar terhadap catur jangka dunia kepolitikan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga pernah terjun ke dalam arena perpolitikan sebagai pemimpin agama dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam alur pemerintahan kota Madinah sekitar tahun 622 H.
Al-Qur’an selaku kitab suci dan disakralkan oleh umat islam, juga ambil alih dalam memberikan asumsi terhadap masalah perpolitikan. Lewat firman-Nya, Allah memerintahakan agar salah satu dari kita untuk menjadi seorang penguasa demi tegaknya amal ma’ruf nahi mungkar.  “ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar mereka itulah orang yang beruntung.”(QS. Al-Imron: 104)
*      Ulama Dalam Perpolitikan Indonesia
Sosok ulama sudah bukan hal yang asing lagi dalam fenomena perpolitikan Indonesia. Semenjak pra-kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 agustus 1945 silam, ulama sudah mewarnai corak perpolitikan Indonesia dan sampai sekarang tetap eksis dan konsisten bertandan diatas panggung perpolitikan nasional.
Lebih-lebih pasca keluarnya hasil pemilu 2004 dan menjelang pemilu 2009, sempat beredar wacana bahwa masyarakat pada umumnya sudah tidak apresiatif dan responsif terhadap partai politik. Pasalnya masyarakat masih banyak tidak percaya bahwa partai politik sungguh-sungguh akan bisa mengatasi segenap kesulitan negara ini. Mereka menilai jika memilih suatu partai politik nasib mereka tetap saja tidak akan berubah. Dalam situasi getir seperti ini, tidaklah mengherankan jika ulama dianggap sebagai tokoh sentral dan sosok yang dibutuhkan dalam menumbuhkan kembali stabilitas kepercayaan masyarakat terhadap realisasi dan kontribusi partai politik.
 Dalam kacamata masyarakat, ulama’ merupakan sosok figur yang sangat dihormati dan dipandang. Tidak hanya itu, kharisma yang dibiaskan pun juga melebihi Lurah, Camat atau Bupati sekalipun. Hal ini dikarenakan tidak sedikit para calon Lurah, Camat dan Bupati sering melakukan sowan politik kepada para ulama dengan berdalih meminta restu dan do’a. Selain itu,  ulama adalah sosok berpengaruh dan mempunyai daya gertak besar dalam hal menstimulasi dan mempengaruhi publik. Sehingga peran serta ulama dalam hiruk-pikuk perpolitikan nasional dan apresiasi publik terhadap ulama terkait politik sudah dianggap menjadi kewajaran belaka.
Hal serupa juga terjadi pada pemilihan calon Bupati di 4 Kabupaten di pulau Madura. Wacana ulama dalam politik kembali digempar-gempirkan, pasalnya partisipasi ulama dalam pencalonan Bupati sangat dominan. Hampir semua calon bupati di 4 kabupaten tersebut, notabenenya adalah  ulama. Semua itu bisa dilihat dari publikasi calon dalam baleho yang bertandan di pinggir-pinggir jalan yang memiliki background ulama. Meski demikian, status ulama dalam dunia politik masih menjadi polemik dan pertanyaan. Akankah status ulama yang disandangnya benar-benar ulama yang otentitasnya bisa di pertanggungjawabkan, atau malah ulama yang hanya bersembunyi dibalik lilitan sorban diatas kepalanya?.
*      Politik Bermoral Nan Agamis
Kekuasaan pada esensinya adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Amanah diperoleh dari tuhan melalui tangan-tangan manusia. Oleh karena itu, dalam melakukan amanah manusia diharapkan senantiasa berbuat yang terbaik dan bertanggung jawab.
Mohammad Amin MS dalam bukunya; Mengislamkan Kursi dan Meja Dialektika Ulama dan Kekuasaan,  menguraikan dengan paparan nyata tentang perpolitikan Indonesia yang seringkali melibatkan dan menggunakan peran ulama atau ulama itu sendiri yang terjun langsung dan menjadi tokoh utama dalam suatu partai politik. Amin dalam asumsinya menganalogikan kursi sebagai singgasana politik atau kekuasaan, sementara meja diartikan papan sebagai tempat berkas-berkas birokrasi kenegaraan. Kursi dan meja jika dikorelasaikan dalam satu istilah, kursi dan meja berarti kekuasaan dalam birokrasi politik.
Keikutsetaan ulama yang dinilai berpengaruh dan berkharisma lebih terhadap publik dalam kancah perpolitikan nasional, diharapkan bisa mengislamisasikan dan merubah corak atau sistem perpolitikan nasional yang belakangan ini kerap kali terjadi paraktik politik uang (money politic) dan kecurangan yang berimplikasi pada eksistensi perpolitikan nasional, menjadi sistem politik yang bermoral nan agamis.
Dewasa ini, yang menjadi keresahan publik adalah ulama yang lalai akan statusnya. Ulama yang mempunyai karakter agamis, malah melupakan nilai-nilai moralitas keagamaan. Lebih ironisnya lagi, ulama yang mempolitisasi islam atau menjadikan islam sebagai media untuk mencapai kekuasaan dengan cara mengobral dan menjual dalil-dalil kitab suci hanya demi kepentingan partai politiknya. Padahal ayat-ayat suci tersebut merupakan hal yang sakral dalam islam dan perlu dipelihara sakralitasnya, bukan sesuatu yang bersifaf profanitas belaka.
Kita tetap berharap mudah-mudah sikap apresiatif ulama terhadap politik, seiring dengan substansi positifnya untuk mewarnai perpolitikan Indonesia demi perubahan pola dan sistem perpolitikan Indonesia yang bermoral nan agamis di masa yang akan datang. semoga !

Al-faroby
Kelas,25 Juli 2010

Cinta; ABSTARK NAMUN TERASA (Analisis Cinta dari berbagai prespektif)

Entah berapa banyak literatur dan wacana soal cinta didiskripsikan. Dari berbagai aliansi profesi yang bermacam-macam serta interpretasi yang beraneka ragam. Namun tak kunjung membuat cinta keluar dari polemik buram yang sepi akan lentera terang.
Ada yang bilang cinta itu buta
karena cinta tak pernah memandang dan memperhatikan, yang ada hanyalah rasa. Ada yang yang bilang cinta tidaklah buta, karena cinta masih bisa menilai dan merasa, tentang apa, siapa, dimana dan bagaimana. Namun kebanyakan orang bijak menilai cinta dari irisan keduanya, karena proses cinta menuju bahagia, perlu ruang dan masa.
Cinta adalah sumber inspirasi. Karena cinta imajinasi bereaksi, lewat bait-bait puisi cinta terefleksi. Cinta adalah kesuksesan dan berkat cinta juga semangat kian terpompakan. Derap langkah penuh dengan kekonsistenan. Kesuksesan sangat mudah didapatkan. Cinta adalah buaian sejuta bahasa. Berkat cinta wacana kian bersinestisia. Mulut yang terbungkam kian menganga. Bahasapun kian bersastra. Semuanya tercipta dari konsekwensi cinta.
Cinta kadang menjadi sumber kebahagiaan. Saat cinta dapat bersahabat, senyum tawapun sangat mudah diuraikan. Problema hidup selalu menemukan titik terang. Hidup serasa dirudung kenikmatan sarat akan kebahagiaan. Hidup seribu tahun lagi, menjadi impian.
Namun disatu sisi, cinta kadang laksana diagonal yang mengiris persegi. Dia mengiris hati dengan kelakar besi bergerigi. Membekaskan luka sebagai konsekwensi. Di saat getir seperti ini, luka dan durja kadang menjadi warna cinta. Tak sedikitpun kebahagiaan sudi untuk bertegur-sapa. Dunia serasa tak bisa bersahabat lagi. Beban hidup kian menyayat hati. Sesal-kesal tak dapat dipungkiri.
Ulama-ulama salaf, sangat indah dalam menafsirkan cinta. Lewat syair-syair lawas mereka mengurai mutiara cinta. Jalaludin Rumi contohnya. Beliau menilai cinta dengan analisa yang hampir mencapai sempurna. Dalam hematnya, cinta adalah refleksi rasa, abstrak namun terasa. Cinta yang hakiki menurutnya, bermuara pada ilahi. Cinta menjadi lentera hati, menghidupkan jiwa yang telah mati, membiaskan amal-amal terpuji, menuju kebahagiaan syurgawi.
Cinta tak lain adalah anugerah, dari tuhan Sang Pemurah. Cinta mempunyai nilai-nilai kesucian, yang patut dipertahankan namun nyatanya rentan sekali dipermainkan. Waktu dan masa seakan menjadi saksi, akan eksistensi cinta yang tak lagi asri. Kesuciannya lambat laun kian ternodai akibat nafsu keji yang tak dapat di kuasai.
Kadang ada orang meronta-ronta
, testimoninya adalah korban cinta karena cintalah yang telah membuatnya sengsara. Cinta membuat masa depannya kandas entah kemana. Namun tak pernah ia sadari, bahwa semua itu terjadi bukan karena cinta. Karena cinta adalah anugerah suci Sang Ilahi, yang tak akan menancapkan duri didalam hati. Namun semua itu terjadi karena nafsu keji dalam topeng cinta suci.


Al-faroby
30 Desember 2010

MEMBANGUN MADURA BUKAN MEMBANGUN DI MADURA (Pemikiran Kontributif Dari 2 Aliansi Yang Mutajanisain)

Madura dikenal dengan sebutan pulau garam. Sedikitnya ada seribu lebih petani garam yang berdomisili dan mengais nafkah dari tanah Madura. Keelokan alam Madura masih terlihat sangat asri nan alami. Pengembangan dan pembenahan oleh pemerintah daerah Madura kian digenjot guna memaksimalkan keelokan alam Madura dalam bentuk objek wisata yang bernilai, baik materi maupun inmateri, demi menyokong pembangunan Madura selanjutnya. Madura mempunyai letak geografis yang sangat strategis. Jauh dari bencana dan mara bahaya yang mengancam. Tidak seperti kota-kota besar pada umumnya, yang hampir setiap tahun mendapat giliran tertimpa bencana, layaknya proses arisan ibu-ibu rumah tangga.
Masyarakat Madura sagat menjunjung tinggi nilai-nilai silaturrahmi dan religi serta memelihara kearifan budaya lokal warisan nenek moyang sebagai kepercayaan, norma, dan panutan yang diekspresikan dalam bentuk tradisi dan mitos yang dianut oleh sekelompok komunitas dalam waktu yang lama.
Fanatisme yang dianut masyarakat Madura terhadap kebudayaan nenek moyang di dasari bahwa budaya mengandung makna luhur dan filosofi yang menstimulus masyarakat Madura menjadi pribadi luhur dan berprestasi. Disadari atau tidak, secara kasat mata budaya telah manjiwai pembangunan Madura sejak masa silam dan akan terus menyokong pembangunan madura di era globalisasi ini. Namun sangat disayangkan sekali, globalisasi mulai memudarkan kesadaran orang Madura utamanya jajaran pemerintah akan eksistensi serta kiprah budaya.
Terkadang dalam menetapkan kebijakan, terkait soal pembangunan
, pemerintah tidak lagi mengindahkan eksistensi budaya lokal Madura sebagai pertimbangan. Dalihnya adalah akselerasi perubahan dan perbaikan sektor ekonomi madura menuju persaingan global. Sehingga hujaman dan protes kian menerpa pemerintah dan pembangunan pun tidak lagi sesuai rencana.
Hal demikian, sangat tampak ketika pembangunan jembatan megah yang menghubungkan pulau Madura dan Surabaya tersebut resmi dibangun. Berbagai wacana pro-kontra beredar diseantero Madura. Ulama-ulama harus putar otak melalui forum persatuan ulama Madura untuk menyikapai kebijakan pemerintah, terkait pembangunan jembatan Suramadu.
 Desas-desis soal pergeseran nilai (value) pasca pembangunan Suramadu menjadi pembahasan hangat masyarakat. Sebab, masyarakat madura tidak menginginkan pemerintah hanya membangun di Madura tetapi masyarakat ingin pemerintah membangun Madura dengan seluruh aspek dan prospek yang dimiliki madura, dengan tidak menafikan kearifan budaya lokal sebagai pertimbangan. Sehingga apa yang telah menjadi milik Madura tidak lantas terkikis seiring dengan adanya pembangunan, melainkan tetap ada mewarnai kehidupan masyarakat Madura dan selalu dipelihara serta dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena budaya Madura tidak sekedar menjajikan romantisme masa lalu yang statis dengan unsur primitif, tapi tersirat makna luhur dan filosofi dibalik kekayaan budaya Madura yang senantiasa akan menyokong pembangunan Madura dimasa depan.
Satu hal yang perlu diketahui dari dampak pembangunan adalah, mobilisasi penduduk dari luar Madura ke Madura, termasuk investor asing yang ingin menanamkan modalnya. Yang jelas, akan terjadi interaksi sosial- budaya antar penduduk Madura dengan luar Madura yang akan berpengaruh terhadap pergeseran nilai-nilai budaya. Dalam kondisi seperti ini, peran kearifan budaya local sangat dibutuhkan sebagai sarana filterisasi budaya asing.
Jadi, pembangunan Madura haruslah berbasis kearifan budaya lokal Madura. Hal ini merupakan faktor utama pendukung pembangunan Madura dan layak menjadi pertimbangan bagi pemerintah dan bagian management yang mengurusi pembangunan Madura. Sehingga pemerintah tidak hanya sekedar menjadikan Madura sebagai tempat membangun dan masyarakat Madura sebagai subjek (hamba) pembangunan, namun pemerintah dapat menjadikan Madura sebagai subjek dan objek dari pembangunan Madura. Sehingga masyarakat Madura tidak lagi menjadi manusia-manusai marginal ditanah kelahirannya sendiri. Dan masyarakat Madura berhak untuk protes serta membrontak, jika pembangunan berdampak pada degradasi nilai-nilai spiritual dan kultural masyarakat Madura. Dengan demikian, pembangunan berjalan dengan iklim demokratis dan melegakan hati masyarakt Madura.Wallahua’lam

Menyikapi Problematis Remaja

“Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga”. Adagium inilah yang sering didengungkan para remaja. Karena remaja cenderung suka foya-foya dan ini telah menjadi tren anak muda sekarang. Ditinjau dari sisi manapun, adagium ini jelas-jelas tidak bersubstansi dan tidak ber-orientasi pada suatu tujuan yang nyata karena adagium ini hanya ilusi dan angan-angan orang pemalas yang maunya hidup dibikin gampang tanpa bersusah payah.
Dunia remaja merupakan alam transisisi menuju masa dewasa. Wajar saja kalau dalam dunia remaja kaum muda akan dihadapkan pada hal-hal yang baru. Banyak perubahan-perubahan pada seseorang yang sedang memasuki masa remaja, baik dalam hal berinteraksi sosial dengan sesamanya ataupun dalam menyikapi suatu hal.
Budaya para remaja seringkali kontradiktif dengan budaya kaum dewasa sehingga seringkali terjadi konflik antara anak dan orang tuanya. Para remaja juga cenderung untuk menganggap diri mereka unik dan mereka yakin keunikan tersebut akan berakhir dengan kesuksesan.  Melihat fenomena seperti ini, tentunya bermanfaat bagi kita untuk memahami dinamika kaum remaja. Mengingat kaum muda merupakan aset yang cukup besar terhadap kemajuan bangsa. Energi kaum muda akan memberikan kontribusi besar terhadap berkembangnya peradaban bangsa, baik dalam segi sosial, budaya, dan politik. Tapi, keberadaan energi muda ini juga akan menjadi penyebab kehancuran suatu bangsa jika energi ini tidak tepat dalam penggunaannya.
Menyikapi budaya yang digagas oleh kaum yang menamakan diri mereka remaja, memang harus bijak. Hal ini dikarenakan apabila terjadi misscommunication  antar kaum remaja dan dewasa akan terjadi koflik yang berpengaruh pada timbulnya disintegrasi sosial dan keutuhan berbangsa dan bernegara. Maka sebaiknya kita bersikap arif dalam menyikapi mereka, tidak asal menyalahkan budaya mereka, tetapi memberikan pandangan dan sugesti secara lembut serta mencari solusi terbaik terhadap perkembangan yang terjadi dalam dunia mereka. Waallahua’lam!

Minggu, 02 Januari 2011

Catatan Lama yang Telah Kusam

Izinkan Aku Meminangmu
(Islamisasi Cinta Dan Dialektik Maya Pemuda pataonan Dan PemudiJember, Yang Terlimitasikan)

Kupandang redaksi kata indah yang pernah kau selipkan dalam handphoneku lewat pesan singkat mu, sebagai jawaban dari perasaannku. Kala itu semuanya masih berjalan sangat apik nan bahagia. Ketika itu kau masih milikku, meski tak sepenuhnya, meski bukan dalam realita nyata. Sesekali aku meraasa memeroleh apa yang aku inginkan.

Tapi, disisi lain aku takut melupakanmu atau bahkan kehilanganmu. Kadang aku terlalu naïf mengingat kejadian yang tak seharusnya aku pikirkan kembali dan seharusnya musnah bersama laju waktu….

Hati ini serasa sesak mengingat peristiwa itu. Saat aku mendengar jeritan hanphone ku memanggilku. Tiba-tiba kudapati pesan bahwa ku ingin aku memutuskanmu, Bahwa kau ingin sendiri dalam hidupmu, Bahwa aku tak berguna lagi dalam retorika perjalananmu, Dan bahwa kau berusaha untuk menghilangkan cinta suci yang telah kita rajuk.

Entahlah ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Hal yang tak dapat aku cerna dengan mudah. Kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Namun sulit, sakit dan aku tak bisa untuk itu. Aku belum siap kehilanganmu………karna kehilanganmu sama halnya membuang separuh jiwaku. Aku tak mengerti mengapa diriku sangat tak bisa melupakanmu apalagi sampai kehilanganmu. Mungki nama mu telah merasuk dan menjelma sehinggaa mendarah daging dalam tubuhku….aku tak tahu…?

Waktu itu kau sempat katakan, kau akan berusaha setia. Aku percaya…hanya saja aku belum yakin. Dan semuanya terjawab saat ini . Tapi kenapa kau lakukan sekarang ? atau mungkin kau telah lupa akan segalanya

Entahlah, mungkin sudah sepantasnya aku seperti ini. Karena kebodohanku yang telah meracuniku selama ini. Perlahan aku mulai mengumpulkan serpihan ingatan  akan ritual sumpah kita tempo dulu. Saat dinding malam mulai sirna karena sang mentari akan segera keluar dari peraduannya. Namun kita tak kunjung selesai dengan hal ikhwal mengenai perjalanan cinta kita yang telah berjam-jam kita bahas . Terhanyut dalam dialektik tak bertepi antara aku sang pemuda madura dan kau sang pemudi jember……..

Andai aku berpikir jernih sejak dulu. Mungkin semuanya tak kan kembali seperti yang kualami saat ini. Luka kembali menganga dalam hidup ku, bahkan berdarah dan tak sempat mengering. Semua itu bermula dari diriku. Namun mengapa aku baru menyadari bahwa semuanya telah terlanjur…
Ah….aku hanya bisa pasrah kepadanya. Pasrah bukan berarti aku bisa melupakanmu begitu saja.. Daya dan upaya telah aku lakukan untuk melupakan semua ini. Namun dalam lubuk hatiku yang paling dalam ada getaran lain  yang berontak  dan berkata lain. Tak terhitung berapa kali aku tumpahkan embun bening dari mataku. Hingga mataku terasa gersang bak kemarau tujuh musim tanpa ada sedikitpun hujan yang tumpah.

Kata teman-temanku aku cengeng. Tapi aku yakin jika ada yang merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan saat ini bukan hal yang mustahil untuk bermuram durja atau lebih parah dari itu.

 Cayank sekian kali sudah aku menyapa mu dengan harapan dapat kembali merajuk cinta lagi. Namun kau selalu menjawabnya “tidak”. Entahlah, mungkin sudah tak ada gunanya lagi aku memohon…..ibarat nasi telah menjadi bubur yang tak mungkin menjadi nasi kembali…Kenyataan sudah didepan mata yang ada dalam benakku saat ini adalah melupakanmu sebisa mungkin, “tidak” . aku yakin bisa melupakanmu. Sama halnya kau melupakanku (ucapku membatin) Meyakinkanku bahwa inilah yang terbaik Jalan yang tuhan berikan untukku

Sulitnya menerima takdir sama dengan sulitnya aku melupakanmu. Dan lesung pipit dipipimu membentuk guratan petir yang tak simetris, sarat akan keindahan membuatku hidup dalam lamunan dan hayalan

Gejolak batin yang timbul setelah kau jauh sugguh, membuaatku tak kuasa…Hidupku terasa hampa tanpa canda, tawa, duka, cita, saat kita masih bersama. Ekspresi batin berdialektik dengan nafsu berharap untuk sekedar bertegur sapa kembali

Namun jika aku kembali melihatmu, rasa sedih, benci, suka akan melebur jadi satu membentuk gumpalan mendung dimataku. Dan rasa itu tetap berdialog dalam hatiku selama asa dan harapanku tak kunjung pupus jua untuk terus mengingat raut indah yang tak dapat aku dapatkan dalam dunia nyata

Setiapa jengkal perjalanan waktu yang terlewati aku terus mencoba dan kerap pula memaksa untuk benar-benar melupakanmu ada bisikan yang mengisyaratkan ketakutan untuk dapat melupakanmu, dialog ini membuat kecamuk dan membuatku terbang dalam masa lalu suram tak berarah

Permintaaan terkahirku. meskipun kau tak berkenan menjadi dan merajuk cinta kita kembali, aku akan berusaha  tuk selalu tersenyum dalam kegalauan ini, karena ku sadar ini lah jalan tuhan  yang diberikan pada ku…jalan yang akupun harus berjalan meewatinya, ada banyak hal baru yang aku peroleh setelah kau tak lagi milikku….
percayalah cayank…
Inilah yang terbaik bagi mu dan bagiku
Terimakasih telah memberi warna dalam hidupku, warna yang sebentar lagi akan luntur bersama petualangan waktu

Satu yang aku inginkan dari mu. Meski kau bukan bagian dari hidupku tapi izinkan aku meminangku Dalam rerimbun dunia kata……

Goresan hati Sank Pujangga
Alfaroby Sank Fylosof

All About “KENANGAN”


“Kenangan”, satu kata yang sudah nggak asing lagi bagi kita. Ketika kita mendengar kata “kenangan”, pasti yang ada di benak kita adalah segala sesuatu yang ada di masa lalu. Yaps, benar sekali!! Kenangan adalah sesuatu (peristiwa) di masa lalu yg membekas dan melekat tajam di ingatan kita, hal ini dikarenakan peristiwa itu memiliki unsur indah ato bahkan sedih dan menyakitkan. So, tanpa kita sadari and tanpa kita inginkan eksistensi kenangan ini akan bikin otak kita ter-upgrade untuk selalu membangkitkan kembali mengenai peristiwa itu di ingatan.
Perlu sobat tahu nech, kenangan ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita dan bahkan kita nggak akan pernah terlepas dengan apa itu kenangan dan masa lalu. Suatu fenomena yang sangat disayangkan sekali, ketika banyak orang yang misunderstanding tentang apa itu kenangan dan bagaimana menyikapinya. Sehingga nggak heran jika dalam realita banyak orang yang jatuh gagal gara-gara kenangan.
Biarlah kenangan itu menjadi bagian dari masa lalu. Hidup ini mesti harus terus berjalan, masa lalu bukan untuk diingat, disesali, ato cuma sekedar dibanggakan tapi masa lalu ada untuk dipelajari. Begitupula dengan kenangan, baik itu kenangan indah ato bahkan kenangan buruk sekalipun. Sebuah kesalahan besar  ketika kita terlarut dalam sebuah kenangan tanpa bisa mengambil pelajaran darinya. Mengenang suatu peristiwa dan mempelajarinya merupakan sebuah langkah kontemplatif yang kemudian menjadi inspirasi berharga buat kita untuk mengukir cerita yang lebih baik di masa depan nanti.
Saya punya kisah cukup menarik dan inspiratif, saya punya teman sebut saja dia “Mr.X”. Saat ini, Mr. X kelas XI di sebuah sekolah yang cukup populer, Mr. X ini memiliki kenangan indah di masa lalunya, kenangannya itu adalah segudang prestasi gemilang. Namun sangat disayangkan sekali keberadaan Mr.X di sekolah itu nggak berikan kontribusi prestasi apa-apa, sekarang dia bukan lagi Mr.X yang dulu, ia berubah. Entah itu karena pergaulannya atau dari faktor lain. Tapi yang jelas, saat ini dia  hanya sibuk dengan membangga-banggakan kenangan indahnya itu pada khalayak ramai tanpa ada usaha untuk menjadi seperti Mr.X yang dulu ato hanya sekedar untuk buktiin kalo dia memang miliki kenangan indah dengan segudang prestasi gemilangnnya di masa lalu.
Dengan kisah tersebut, cukuplah bagi kita sebagai gambaran kalo kita terlalu terlena dengan kenangan indah kita nggak akan maju. Begitu juga sebaliknya ketika kita terlarut dengan kenangan buruk.
Memiliki kenangan dan mengingatnya ato mengabadikannya dalam suatu bentuk catatan bukan berarti  terjebak dan terpukau pada kemilau masa silam, melainkan sebagai “rekreasi hati”, sebentuk katarsis yang tak hanya mengekalkan kejadian bahwa kita pernah ada disana, di suatu tempat, disuatu waktu. Namun juga bagaikan merasakan kembali sensasi keindahan (juga mungkin ke-”tidak-indah”-an) saat melaluinya dulu. Hal itu juga sebagai pengalaman batin yang sungguh sangat luar biasa, dimana membuat kita semakin sadar bahwa kehidupan yang kita jalani diwaktu silam, kini dan nanti, layak disyukuri serta dihargai sebagai upaya mengabadikan kenangan serta ungkapan rasa syukur atas karunia kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah SWT.
Kenanganlah yang akan menuntun kita berjalan kedepan meski ia selalu tertegun melihat kita menjauh meninggalkannya dan tak sekalipun marah jika kita datang lagi mengusiknya. Kenangan, sahabat sejati. Kenangan, kekasih sejati – Novel Perempuan, Rumah Kenangan (halaman 10) karya M.Aan Mansyur, Insist Press,Yogyakarta, 200
                                                  Semoga bermanfaat, and wassalam
 Written by: Naili

SELAMAT DATANG INDUSTRIALISASI DI PULAU GARAM; KEARIFAN BUDAYA LOKAL MADURA SIAP MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI MENUJU AKSELERASI PEMBANGUNAN MADURA

Kearifan budaya lokal merupakan pengetahuan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur dan sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya serta  diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut oleh sekelompok masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwasanya kearifan budaya lokal senantiasa terefleksi dalam kehidupan masyarakat di suatu daerah dan menjadi ikon khas dari daerah tersebut. Begitupula di Pulau Madura, Pulau yang akrab dengan sebutan Pulau Garam ini kaya dengan beraneka ragam kearifan budaya lokal.  Kearifan budaya lokal Pulau Madura tersebut telah menjadi ikon khas yang telah mengantarkan masyarakat Madura memiliki nama di kancah Nasional, semisal budaya kerapan sapi, sape sono’ serta tali persaudaraan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Madura.
Budaya Madura mengandung nilai-nilai luhur dan filosofi yang mampu menstimulus Orang Madura untuk menjadi pribadi yang luhur dan berprestasi. Namun sangat disayangkan sekali, globalisasi mulai memudarkan kesadaran Orang Madura utamanya jajaran pemerintah terhadap eksistensi serta kiprah budaya.  Dalam menerapkan suatu kebijakan terkait dengan akselerasi pembangunan, seringkali pemerintah tidak mengindahkan kearifan budaya lokal. Padahal, tanpa mereka sadari secara kasat mata budaya telah menjiwai pembangunan Madura sejak masa silam yang lalu, dan ia akan senantiasa menyokong akselerasi pembangunan di era globalisasi ini. Berikut dipaparkan sekilas tentang budaya Orang Madura yang seringkali diimarjinalkan dari permukaan kehidupan global;
·                     Motivasi kerja ulet, rajin menabung serta rohaniah dan mental agama sangat kuat, karena didikan sejak kecil, terutama melalui pondok pesantren. Hal ini mengindikasikan bahwasanya Orang Madura yang merupakan subjek sekaligus objek pembangunan memiliki etos kerja dan pribadi yang sangat baik. Sehingga akan sangat mendukung terhadap suksesnya akselerasi pembangunan Madura.
·                     Budaya dari leluhur yang diperoleh secara turun temurun, yaitu Buppa’ Bebuh Guru Rato, merupakan ketaatan kepada orang tua (bapak, ibu, guru, dan pemerintah). Termasuk kesetiawakawanan sebagai satu suku, dan budaya toron atau mudik bisa memperkuat silaturahim. Hal ini sangat dibutuhkan dalam management industrialisasi dan modernisasi karena sangat mendukung relasi antar subjek pembangunan sekaligus ketaatan pada hukum secara otomatis akan tercipta.
·                     Ungkapan budaya Madura: mon kerras pa-akerres (jika mampu dan kompeten untuk berkompetisi maka harus wibawa, kharismatik, dan efektif layaknya sebilah keris) kiranya dapat mengilhami para individu entitas etnik Madura untuk meraih keberhasilan dan ketenteraman dalam menjalani kehidupan yang berdaya di dunia industrialisasi. Hal seperti inilah yang akan sangat mendukung dan mendasari pembangunan Madura. Ungkapan itu yang selalu menjiwai dan menstimulus Orang Madura agar tidak mudah dijadikan hamba bagi investor asing dan industrialisasi.
·                     Jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Sifat Patriotisme yang tinggi dari Orang Madura senantiasa menjadi motivator bagi Orang Madura untuk selalu membangun Madura khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Terdapat budaya Madura yang kontraversial, bagi ranah publik budaya ini telah menjadi oretan hitam dalam pribadi Orang Madura. Budaya tersebut adalah “Carok”. Satu budaya yang sangat terkenal dan telah merefleksikan kepribadian orang Madura yang keras dan angkuh.  Jika kita mau berfikir lebih bijak, dalam budaya Carok tersebut terdapat unsur pembelaan diri dari ancaman luar. Jika orang-orang khususnya Orang Madura mampu mengambil nilai filosofi dari carok, akan menimbulkan rasa patriotisme tinggi dan pembangunan Madura tidak akan dikuasai oleh pihak asing, seperti halnya yang telah terjadi di Pulau Batam.
Uraian singkat mengenai budaya Madura yang telah dipaparkan sebelumnya cukup sebagai indikator bahwasanya Pembangunan seperti apapun yang akan dilaksanakan di era globalisai akan tetap terealisasi tanpa harus mengabaikan dan menghilangkan kearifan budaya lokal. Menjaga dan tetap merealisasikan budaya dalam akselerasi pembangunan bukan berarti statis dengan tradisi yang primitif dan anti terhadap filterisasi budaya asing.
Satu hal yang perlu diingat dari dampak pembangunan adalah, mobilisasi penduduk pendatang dari luar Madura ke Madura, termasuk investor yang berminat menanamkan modalnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan budaya asing akan masuk dan akan terjadinya pergeseran nilai (value) karena terjadi interaksi antara pendatang dengan penduduk lokal  yang sulit dihindari. Dalam kondisi seperti ini, peranan kearifan budaya lokal sebagai media filterisasi budaya asing sangat dibutuhkan.
Refleksi budaya yang berkaitan dengan tradisi dalam prespektif modern tentunya tidak sekadar membangga-banggakan masa lalu dengan romantisme yang jauh dari realitas masa kini. Berhubung pembangunan menuju hari esok, orientasi seharusnya ditujukan ke masa depan. Begitupula dengan budaya Madura, budaya Madura tidak sekedar menjajikan romantisme masa lalu yang tetap statis dengan nilai tradisi yang primitif. Budaya Madura mengandung nilai-nilai luhur yang tetap memiliki orientasi ke masa depan pembangunan Madura. 
Pembangunan Madura haruslah tetap berbasis pada kearifan budaya lokal Madura. Hal ini merupakan faktor utama pendukung akselerasi pembangunan Madura yang perlu diperhatikan oleh pemerintah khususnya tim management pembangunan Madura. Madura tidak akan lagi sekadar tempat pembangunan, sehingga orang Madura tidak akan menjadi manusia-manusia marginal di tanah kelahiranya sendiri. Selain itu, Orang Madura punya hak menolak hal-hal yang bisa mencemari nilai-nilai spiritual dan kultural masyarakat Madura. Dengan demikian, pembangunan berjalan dalam iklim demokratis, dan melegakan hati semua pihak.
Maka dari itu, dengan kearifan budaya lokal, Madura  mengucapkan "selamat datang" Industrialisasi, Kami siap dengan tantangan globalisasi menuju akselerasi pembangunan Madura.

Written By: Naili 
Asrama Putri Smaga