Kamis, 22 Desember 2011

PANCASILA ADALAH BAGIAN KEHIDUPAN BERMARTABAT BAGI MAHASISWA INDONESIA


Telah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia bahwa Pancasila dijadikan sebagai ideologi bangsa. Pancasila sebagai ideologi sudah seharusnya ditempatkan dalam pengertian sebagai moral, jiwa, dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia mempunyai arti statis dan dinamis. Jiwa ini keluar diwujudkan dalam sikap mental, tingkah laku, dan amal perbuatan bangsa Indonesia yang pada akhirnya mempunyai suatu ciri khas. Ciri inilah yang menciptakan kepribadian bemartabat bagi bangsa Indonesia. Martabat adalah citra, ia bangunan konstruksi sosial yang dihargai keberadaannya. Martabat lantas menjadi bagian penting bagi keberadaan manusia—baik pribadi maupun kelompok. Demikian pentingnya arti martabat bagi manusia, sampai-sampai ia menjadi pertaruhan hidup-mati setiap orang, kelompok, maupun suku-suku bangsa tertentu. Martabat lebih berhubungan dengan moral daripada kedudukan atau jabatan seseorang karena martabat adalah susunan adab dalam bersosialisasi.
Dalam kondisi bangsa dan negara seperti saat ini, perilaku budi baik dan prestasi yang menimbulkan prestise sebagai modal personal untuk meraih martabat (moral value) merupakan hal yang sangat urgen bagi setiap individu warga negara khusunya bagi elemen penting Bangsa/ mahasiswa.  Mahasiswa sebagai elemen penting  bangsa Indonesia sudah seharusnya mengaplikasikan pengamalan Pancasila dalam kehidupannya untuk menjadi insan yang bermartabat. Dalam Pancasila terkandung nilai-nilai moral dan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Dengan melakukan pengamalan Pancasila secara konsisten, akan tumbuh kepribadian yang bermartabat dari seorang mahasiswa; berketuhanan yang Maha Esa, berkeprimanusiaan yang adil dan beradab, menjaga persatuan Indonesia, berkerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 
Seorang mahasiwa yang senantiasa aktif dan bersosialiassi dengan masyarakat sudah seharusnya memiliki adab dan moral yang sesuai dengan masyarakat. Sebuah analogi dan contoh nyata, mahasiswa sebagai jiwa muda dengan idealisme dan ideologinya akan sennatiasa ingin menjadi dirinya seorang yang dipandang bermartabat. Sehingga ia akan berusaha untuk bersosialisasi sebaik mungkin dengan masyarakat di sekitarnya. Mahasiswa akan menyesuaikan adab dan moralnya dengan norma yang berlaku. Selain itu, mahasiswa adalah bagian masyarakat dan kehidupannya di tengah masyarakat yang memiliki norma sesuai dan berdasar pada ideologi bangsa, maka secara tidak langsung dan tidak disadari mahasiswa pun berpedoman pada ideologi bangsa, pancasila.
Pancasila sebagai bagian kehidupan bermartabat bagi mahasiswa juga dicerminkan dari adanya pendidikan pancasila di perguruan tinggi. Telah disebutkan bahwasanya pendidikan pancasila di perguruan tinggi merupakan pendidikan berkarakter bagi  mahasiswa yang memiliki tujuan membuahkan sikap mental bersifat cerdas penuh tanggung jawab dari peserta didik (mahasiswa) dengan perilaku yang : Beriman dan bertakwa terhadap TuhanYang Maha Esa, Berprikemanusiaan yang adil dan beradab, mendukung persatuan bangsa, mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial. Jelas bahwa dengan pengamalan dan penghayatan nilai-nilai pancasila, kepribadian mahasiswa akan terbentuk, dan biasnya pada martabat.
Dalam visi dan misi Pendidikan pancasila disebutkan juga bahawa pendidikan pancasila mengembangkan kepribadian mahasiswa (membentuk karakter pancasila) dan membantu mahasiswa untuk mampu mewujudkan nilai-nilai di setiap silanya. Mahasiswa disiapkan untuk menjadi insan-insan terdidik dengan intelektual tinggi dan moral yang mulia sebagai pemegang estafet kepemimpinan bangsa di masa depan.
Perlu diketahui bersama bahwasanya pancasila menjadi bagian kehidupan bertabat bagi mahasiswa bukan hanya karena pancasila menjadi sebuah mata kuliah di perguruan tinggi, tapi dikarenakan pancasila adalah ideologi serta jiwa bangsa indonesia. Bagi setiap warga negara, pancasila sebagai ideologi dan falsafah negra merupakan dasar dari setiap perilaku dan norma. Pancasila diyakini memiliki nila-nilai yang agung, dan ia telah mendarah daging pada setiap warga negara, termasuk mahasiswa.
Eksisitensi mahasiswa yang senantiasa kritis terhadap banyak hal khususnya terhadap  keadaan bangsa merupakan sebuah kekuatan, aset berharga bagi bangsa Indonesia. Di tangan para mahasiswa, arah pembangunan dan kemajuan bangsa di masa depan berada. Akan tetapi apabila Sifat kritis mahasiswa yang seringkali direalisasikan dalam bentuk demonstrasi dan beberapa aksi lainnya apabila tidak sesuai dan berdasar pada kepribadian bangsa, ia kan menjadi kelemahan serta bumerang bagi kemajuan bangsa Indonesia.  Sudah semestinya pancasila dengan sepaket nilai-nilai yang terkandung di setiap silanya menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa dan landasan ideologinya.
Pancasila akan senantiasa menuntun langkah mahasiswa menuju jalan perubahan yang lebih baik. Nilai-nilai di setiap silanya adalah sebagai kontrol bagi prilaku mahasiswa. Seorang mahasiswa yang tidak menyadari hal ini, pastinya ia kan berbuat sekehendakya dengan keilmuannya. Hanya mengandalkan keilmuan, seseorang tidak akan bisa mendapakan esensi kebermanfaatan ilmu yang dimilikinya bagi orang lain. Sedangkan seorang mahasiswa di perguruan tinggi tengah berada pada uji coba dan persiapan untuk masa depan yang lebih baik. Perlu diingat bahwa Perguruan tinggi ialah sebuah pusat dengan perananya menghasilkan insan-insan terdidik calon pemimpin bangsa, yang tidak hanya unggul dalam penguasaan iptek dan seni.  Namun juga tetap tidak kehilangan jati dirinya dan tetap sesuai dengan kara budaya bangsa dan kebudayaannya yang bermartabat. Disinilah peranan penting dan utama, pancasila sebagai bagian kehidupan baermartabat bagi mahasiswa Indonesia.

REFERENSI
-Winarno, dwi.Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan.2006.Surakarta: PT: Bumi aksara.
-Syarbaini, syahrial. Pendidikan Pancasila di Perguruan tinggi.2002.Jakarta: Ghalia Indonesia.
-Salim, arshal.Pendidikan Kewarganegaraan, Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani.2000.Jakarta: Jakarta Press

Written by : Naili U.H 
                  04 Oktober 2011( tugas mata kuliah PKN, FFUA 2011)


Minggu, 10 April 2011

Untuk Sebuah Akhir Kehidupan yang Indah

    Sebuah akhir yang indah, begitulah harapan semua orang dalam menjalani segala sesuatu. Hasil akhir yang indah dari apa yang telah diupayakan adalah sebuah tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang.
   Di tengah eforia modernisasi seperti saat ini, sebagian besar orang khususnya para generasi muda acapkali menargetkan hasil akhir yang tendensinya hanya bersifat duniawi. Semisal; lulus ujian, kuliah di perguruan tinggi favorit, mendapatkan beasiswa, menikah dengan orang yang dicintai, karir sukses, memiliki penghasilan di atas rata-rata dan masih banyak yang lainnya. Sebenarnya hal seperti ini bukan hal yang langka dalam sejarah peradaban manusia. Motif untuk selalu bahagia dan hidup enak sudah menjadi fitrah dan hukum alam yang tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan. Namun sangat disayangkan, sekian usaha pencapain hasil akhir tersebut acapkali membutakan hati nurani manusia dalam menyadari hakekat yang ada dibaliknya. Dengan kata lain, mereka telah mengabaikan eksistensi “sebuah akhir kehidupan di dunia”. Akhir kehidupan yang sudah menjadi harga mutlak bagi setiap manusia, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qura’an;

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (AL-ANBIYAA: 35)

      Berdasarkan ayat tersebut, sangat jelas bahwasanya akhir kehidupan (kematian) adalah sesuatu yang pasti terjadi dan merupakan hak prerogatif Allah Swt yang hanya mengetahui informasi tentang kapan, dimana dan di waktu apa manusia menemui ajalnya. Dalam kematian hanya ada dua pilihan yaitu husnul khotimah dan su`ul khotimah,. Khusnul khotimah memiliki makna mengakhiri hidup dengan baik. Yaitu mengakhiri hidup dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan Su’ul Khotimah, yaitu mengakhiri hidup dalam keadaan buruk. Dalam hal ini yang mengetahui kematian seseorang khusnul khotimah atau su`ul khotimah secara hakiki hanyalah Allah Swt.
      Pernahkah kita mengingat akhir kehidupan kita (mati)? Sudah siapkah kita jika suatu saat telah tiba waktu kita untuk kembali ke sisi-Nya? Pernahkah terpikir tentang bagaimana akhir episode kehidupan kita? Apakah sebuah akhir yang indah (khusnul khotimah) atau bahkan sebaliknya (su’ul khotimah)?.
     Deretan pertanyaan tersebut mungkin terabaikan dan bahkan terkikis habis dari ranah hati manusia. Kesibukan berkarir untuk menduduki sebuah jabatan, menggapai prestasi, menyandang gelar dan memperoleh penghargaan telah mendiskriminasi adanya “akhir kehidupan” dari mindset manusia-manusia modern seperti saat ini. Diantara sekian list harapan dan target, apakah pernah tercantum satu target “meninggal dalam keadaan Khusnul Kotimah”?. Tentunya hal ini menjadi sebuah impian bagi sebagian besar insan modern, yang mungkin bisa dikata impian yang tidak pernah dimimpikan dan diusahakan untuk terwujud.
       Sepintas, dalam memaknai khusnul khotimah terlihat mudah sekali, yang menjadi titik tumpu hanyalah akhir baik dari hidup. Masalah sepanjang hidupnya yang lain tidak taat ataupun tidak taqwa, tidak jadi soal. Sehingga tidak heran jika sebagian orang Islam khususnya remaja mengatakan “Yang penting mati dalam keadaan khusnul khotimah. Masalah prosesnya bagaimana dan seperti apa itu mah belakangan, saat ini adalah moment menikmati masa muda dengan senang-senang. Urusan ibadah bisa nanti jika sudah tua!!”.
        Hal ini merupakan interpretasi dari misunderstanding dalam memaknai khusnul khotimah. Sangat benar jika sebuah hasil akhir dijadikan titik tumpu dan parameter sukses tidaknya sebuah proses. Namun, perlu digaris bawahi bahwasanya hasil akhir dipengaruhi oleh proses, hasil akhir tidak akan berbeda jauh dengan prosesnya. Sudah menjadi hukum alam, bahwa aksi akan sama dengan reaksi (Hukum Newton III; F aksi= -F reaksi). Jika input aksi yang kita berikan berlabel baik tidak mungkin reaksi yang akan kita dapatkan berlabel buruk. Begitupula dalam kehidupan ini, jika kita senantiasa menjalani hidup ini dengan keistiqomahan dan keikhlasan dengan niat beribadah kepada Allah (taat & taqwa), maka ada jaminan kita akan mati dalam keadaan khusnul khotimah.
       Perlu diketahui bahwasanya tidak ada kemungkinan pasti seseorang mengetahui kapan kehidupannya akan berakhir. Bisa jadi seseorang menganggap usianya masih akan lebih panjang, tetapi ternyata mati mendadak, dan begitu juga sebaliknya. Akhir kehidupan bagi semua orang tidak bisa ditebak atau dirancang. Demikianlah prosedur pasti dari Allah tentang akhir kehidupan. Sekarang terserah pada kita bagaimana cara kita memanage setiap fase kehidupan kita dengan baik, sehingga nantinya kita dapat memperoleh yang terbaik pula. Maka dari itu, untuk menjadi khusnul khotimah maka seseorang harus selalu meningkatkan keistiqomahan, keimanan, amal saleh, dan juga akhlak yang baik pada setiap waktu tanpa henti.
        Akhir kesudahan yang baik pastinya menjadi harapan setiap hamba Allah yang istiqomah berjalan diatas manhaj-Nya yang lurus, yang senantiasa berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, dan semoga khusnul khotimah menjadi akhir indah dari agenda kehidupan kita di dunia ini.
       Dengan keistiqomahan, tetapkanlah niat untuk akhir yang indah dan untuk perjumpaan dengan Sang Pemilik kehidupan.
                                                                                                      Written By: Alfarobi (02 April 2011)

Kamis, 13 Januari 2011

Sekilas Kutipan dari Pengalaman Sang Aku

Banyak hal dari kehidupan ini yang bisa kita jadikan sebuah pelajaran, sekaligus sebagai media introspeksi diri yang nantinya bisa kita jadikan sebuah parameter kebaikan. Diantaranya itu adalah pengalaman, baik itu pengalam pribadi atau pengalaman orang lain. Tidak ada salahnya jika kita menelisik sebuah pengalaman dari perjalanan awal seseorang di dunia jurnalistik, sebut saja seorang itu adalah “Aku”.

#####

Setelah beberapa bulan aku duduk di bangku SMA kelas 2, terlintas ide untuk tergabung dalam tim jurnalistik sekolah baik itu di KIR ataupun di Majalah. Nah..., sejak saat itulah aku memulai dunia baruku dengan jurnalistik. Tanpa aku sadari ternyata bergabungnya aku di dunia jurnalistik, telah membuatku lupa dengan kesibukanku sebelumnya, kesibukan dengan dunia keteraturan angka. Keteraturan angka yang telah mengajariku banyak hal. Sejak aku berkelut dengan angka-angka dan beberapa penghitungan aku terstimulus untuk berpkir tentang segala sesuatu di dunia ini yang rupanya tercipta dengan sangat teratur. Semuanya telah melalui penghitungan dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi dan berpola sangat beraturan, Subhanallah..
Sejak saat itu aku belajar bersyukur atas semua hal dan sejak saat itu pula sudut pandangku pada sesuatu mulai berubah cukup rasional. Segala sesuatu itu adalah ilmiah, dengan keteraturan dan penghitungan yang ilmiah pula. Ini adalah nikmat yang luar biasa bagi aku..:)
Namun.., aku tidak bisa bertahan lama dalam kesibukan dengan angka-angka tersebut.  Mencapai titik jenuh dan mulai terlepas dari rutinitas bukan berarti aku juga terlepas dengan apa yang telah aku dapatkan. Sudut pandangku masih sama dan intensitas syukurku pada Sang Kuasa pun masih sama, dan semoga seiring waktu berjalan ini semua bertambah. Amiin..

####

Angka-angka yang pernah hiasi hari-hariku di masa silam rupanya telah mengantarku pada puncak titik jenuh, titik jenuh yang tak mungkin lagi aku paksakan dan aku banggakan. Status palsu dari sebuah perjuangan sempat melekat dalam diriku, status sebagai seorang ahli hitung dengan cita-cita menjadi seorang matematikawan. Mengingat hal itu, acapkali aku merasa geli dan ingin tertawa sendiri. Bagiku hal itu adalah sebuah humor dari panggung kehidupan yang mungkin tidak akan bisa dimengerti oleh orang lain kecuali pelaku utamanya. Pelaku utama?? Yaps, dalam hal ini pelaku utamanya itu adalah “aku”.
Aku kadang tak percaya tentang eksistensi diriku kala itu, benarkah aku sempat populer di dunia Matematika?? Benarkah aku sempat kecanduan angka dan setumpuk teori-teorinya?? Dan benarkah namaku telah terabadikan diantara deretan nama-nama sang Juara dalam tumpukan berkas kusam di beberapa instansi???. Hidup memang tak ubahnya roda yang berputar dan akan terus berputar, baru kemaren aku berkelut dengan angka-angka dan sekarang aku telah berada di dunia kata dengan atmosfer yang sangat berbeda. Sangat berbeda,
Dunia kata, dunia jurnalistik, dunia penuh warna!! Itulah kesanku pada dunia tulis-menulis yang telah memberiku banyak hal berharga. Hal berharga yang pastinya telah mengantarku pada gerbang perubahan hidup yang tak lagi menjadikanku hamba pada egoisme demi sebuah ambisius. Kamuflase diri yang seringkali menjadi kedok dalam ikhtiarku kini tidak lagi ada, dalam dunia kata, yang ada hanyalah keikhlasan. Keikhlasan yang melahirkan untaian kata penuh makna dan mutiara ilmu bagi setiap pembacanya.
Bagiku dalam menulis, keikhlasan adalah faktor utama yang yang akan mendorong kita untuk menuangkan ide. Sulit atau bahkan bisa dibilang tidak mungkin, seorang penulis dapat menulis dan melahirkan karya-karyanya dengan terpaksa. Dengan ikhlas tanpa ada unsur paksaan, mereka para penulis menuangkan ide serta pemikiran ilmiahnya lewat tarian penanya. Dalam hal ini, Cukup banyak contoh nyata yang bisa dijadikan cerminan. Salah satunya Sang Penulis hebat,Helvy Tiana Rosa (HTR). Sosok seorang  perempuan yang menjadi salah satu inspirasi bagiku. Dengan sederetan prestasi di bidang jurnalistik, beliau telah melahirkan banyak karya yang sampai sekarang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan serta pekembangan dan kemajuan Islam. Tidak hanya itu, masih banyak serentetan nama seperti;  Andrea Hirata, Fediriva Hamzah, Asma Nadia, Afifah Afra, O.Solihin, Habibur Rahman E., dan lainnya, merekalah penulis-penulis hebat yang dimiliki Indonesia. Mereka telah mewarnai dunia pengetahuan engan karya-karyanya. Mereka telah menjadi inspirasiku.
Perjalananku di dunia jurnalistik memang masih seumur jagung atau bahkan kurang dari itu. Awalnya, mungkin bisa dikata aku berkelut di dunia tulis-menulis ini hanyalah sebuah pelarian. Pelarian dari kejenuhan dan kebosanan yang selama ini aku paksakan, aku tak bisa melampiaskan semua perasaanku hanya lewat oret-oretan angka, setumpukan kamus bahasa asing, kesibukan organisasi atau yang lainnya. Aku tak bisa melimpahkan semua keluhan dan kepuasan dengan leluasa.
Well, alhamdulillah.. meski demikan tapi dengan semua aktivitasku sbelumnya itu aku bisa mendapatkan ilmu serta segudang pengalaman yang tidak bisa diukur oleh apapun. Namun, tetap saja aku masih merasa terpenjara dalam diriku sendiri. Semua yang aku lakukan belum sepenuhnya memberiku kepuasan dan kesenangan tersendiri. Aku yang notabenenya sebagai salah satu aktivis organisasi serta siswa yang cukup aktif memang mempunyai relasi banyak. Tapi itu semua tidak bisa menemani kesepianku. Kesepian?? Yaps.., itulah satu kata yang menurut aku sangat pantas untuk aku tujukan pada diriku sendiri kala itu. Aku tidak tahu mengapa sedemikan, jika Anda bertanya maka aku pun bingung untuk menjawabnya. Tapi sudahlah nggak usah dipermasalahkan atau diperdebatkan.
Banyak sekali hal berharga yang aku dapatkan dari dunia tulis-menulis, aku bisa menambah wawasanku, aku bisa berbagi ide + pemikiran, aku bisa melahirkan karya yang insyaAllah bermanfaat dan juga aku bisa melimpahkan semua yang aku rasa dengan leluasa. Pena, kertas serta laptop/ komputer yang sering aku gunakan dalam menuangkan ide, perasaan atau pemikiran tak pernah mengeluh satu kalipun. Mereka juga tak pernah menolak dan bekhianat, mereka bisa dipercaya. Kadang aku berpikir, adakah orang yang memiliki tipikal seperti itu, tulus menjadi temanku, sahabatku, atau bahkan lebih dari itu. Tapi.. sudahlah seperti apapun keinginanku untuk menyamakan 2 hal yang hidup dan mati tidak akan pernah ketemu titik pangkalnya, karena pada hakekatnya mereka eamng dua hal yang sangat berbeda. 
Satu hal terpenting dari sekilas pengalamanku di dunia jurnalistik adalah, suatu kesenangan tersendiri ketika aku bisa berbagi. Dengan segala ketidaksempurnaan dan kekuranganku, yang bisa aku berikan dan aku bagikan adalah oretan-oretan artikelku. Semoga semua itu bermanfaat khususnya bagi aku. Harapanku, semoga kelak di tengah kesibukanku yang notabenenya adalah seorang wanita aku masih bisa berbagi dan berkiprah di dunia pengetahuan lewat karya-karyaku. Amiin..
Itulah sekilas pengalaman dari sebuah catatan seseorang yang mengatasnamakan dirinya "Aku", dari pengalaman itu ada hal berharga yang bisa kita jadikan refleksi dan mediasi introspeksi diri. 
The last.., buat semua teman-teman.., semua orang termasuk kita bisa menulis dan melahirkan karya-karya inspiratif. Hal berharga yang kita punya adalah pemikiran dan kemauan kita. Pemikiran sebagai bentuk respon subjektif terhadap suatu objek, dan kemauan tuk mengetahui dan memberikan yang terbaik di setiap hal. Go ahead with journalism..,^_+

Naili,
13 Januari 2011

Rabu, 12 Januari 2011

Yang Ter_asingkan


Pengekangan bertopeng indah kebebasan
Diantara keangkuhan & kegoisan,
Sepi merindukan indahnya kebersamaan
Cukuplah pengkhianatan yang ingatkan dia tentang arti kesetiaan
               Tidakkah sekali terpikirkan?
               Satu kisah tentang dia yang tak terabadikan sejarah,
               Kerasnya kehidupan yang coba temukan titik bahagia
              Meski hanya tertatih yang dia bisa
              Karena, kini bulir-bulir air matanya
              Harapkan pendar-pendar cahaya dari manisnya sebuah senyuman
Kawand seperjuangan…
Inilah dinamika kehidupan
Dari catatan terasingkan
Yang acapkali terbaikan oleh peradaban
                                                             Nai_li, 12 Januari'11