Selasa, 13 November 2012

PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIOETANOL BERBAHAN DASAR LIGNOSELULOSA SAWIT SEBAGAI JEMBATAN EMAS MENUJU INDONESIA MANDIRI


Masalah energi saat ini telah menjadi masalah global. Pengembangan energi alternatif  dan energi terbarukan pun tengah menjadi tranding topic di berbagai media. Penguasaan ruang, waktu, dan perkembangan teknologi menuntut semakin besarnya sumber energi yang diperlukan. Sebut saja alat transportasi seperti mobil atau bus, alat komunikasi seperti laptop, handphone, televisi, peralatan rumah tangga dan masih aneka produk kemajuan teknologi lainnya.
Dewasa ini, pemenuhan energi yang bersumber dari sumber daya alam (energi fosil) masih menjadi perihal utama dalam kehidupan sedangkan ketersediaaan energi fosil tersebut semakin lama semakin memprihatinkan. Fenomena nyata adanya krisis  BBM yang kian marak terjadi di berbagai daerah dan pelosok di tanah air merupakan suatu indikator bahwa cadangan energi fosil yang dimiliki dunia khususnya Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Cadangan minyak bumi diperkirakan akan habis sekitar 12 tahun lagi, gas tinggal 30 tahun, sementara batu bara bisa dimanfaatkan hingga 70 tahun ke depan. Hal ini dikarenakan ketersediaan energi yang disediakan alam terbatas, butuh pulahan dan bahkan ratusan tahun untuk memperbaruinya, sedangkan ketergantungan masyarakat terhadap energi semakin hari semakin meningkat.
Saat ini, kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar bertumpu pada bahan bakar fosil. Kebutuhan energi nasional masih ditopang oleh minyak bumi sekitar 51,66 persen, di urutan berikut gas alam 28,57 persen, dan batu bara 15,34 persen.  Hal ini menunjukkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah menjadi masalah besar dan perlu solusi yang mendesak.  Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Inilah peraturan pendorong pengembangan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Dr. Agus Haryono, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (1/5). Ia mengatakan, tahun 2025 pemenuhan kebutuhan energi Indonesia diharapkan 17 persennya berasal dari sumber-sumber energi baru terbarukan. Maka dari itu, pengembangan energi alternatif berupa energi terbarukan dan konservasi energi yang lebih dikenal dengan istilah  pengembangan energi hijau sangat diperlukan. Diantaranya yaitu, pemanfaatan bioetanol berbasis lignoselulosa dari sawit dapat menjadi alternatif penggunaan BBM.
Adapun yang dimaksud dengan energi hijau adalah energi bersih non fosil yang berasal dari alam dan dapat diperbarui. Energi hijau ini bisa dari bahan nabati, air, angin, matahari, sampah, hydrothermal, hydropower, geothermal hingga gelombang. Karena energi hijau ini merupakan energi bersih non fosil, maka dalam penggunaannya ia tidak menambah polutan atau cemaran ke atmosfer kita dan bioetanol merupakan salah satu contoh energi hijau yang tengah populer saat ini. Secara definisi ilmu kimia bioetanol adalah sejenis alkohol (etanol) yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati.
Bioetanol berbasis lignoselulosa dari sawit yang merupakan bioetanol berbahan dasar  lignoselulosa non pangan merupakan salah satu solusi terbaik untuk mejawab krisis energi di Inodonesia. Hal ini dikarenakan potensi limbah sawit Indonesia begitu besar,  Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan pelepah kelapa sawit di Indonesia cukup tersedia melimpah.  Luas perkebunan Indonesia yang mencapai 8,4 juta hektare dapat menghasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka dalam satu ton TKKS etanol yang dihasilkan bisa sebanyak 150 liter.
Sejak pertengahan 2011 lalu, LIPI bekerja sama dengan KOICA dengan bantuan Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Changhae Energeering mulai merintis penelitian dan pembangunan sebuah pilot plant. Pilot plant ini dirancang mampu menghasilkan etanol dengan kemurnian 99,5 persen sebanyak sepuluh liter per hari.
Dewasa ini, bioetanol sekarang menjadi populer sebagai bahan bakar alternatif yang mulai gencar dikembangkan oleh masyarakat. Bioetanol sudah mulai banyak dikembangan oleh pengusaha UKM karena dapat dilakukan oleh industri skala kecil atau rumahan, dengan modal investasi yang relatif kecil. Bioetanol dapat diproduksi oleh siapa saja yang berminat dan di masa depan bahan bakar nabati termasuk bioetanol akan berkembang secara skala kerakyatan dan pemasarannya pun tidak sulit karena bisa langsung digunakan oleh pengguna akhir. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi produsen energi terbarukan berupa bioetanol lignoselulosa dari sawit.
Saat ini yang diperlukan adalah optimalisasi dalam pengolahan serta pemanfaatan lignoselulosa sawit menjadi bioetanol. Mengingat kekayaan Indonesia  akan sawit cukup berlimpah, tentu tidak menutup kemungkinan negara-negara lain akan mencoba untuk memanfaatkannya juga sebagai peluang bisnis. Seperti halnya yang telah terjadi pada kekayaan alam Indonesia lainnya. Cukup bagi kita belajar dari kesalahan masa lalu, dimana Indonesia hanya seakan menjadi tempat pembantu di rumah sendiri, sebagai penyedia kekayaan alam, sedang yang mengolah dan mendapatkan untung besar adalah negara lain. Selain tempat penyedia, Indonesia selama ini hanya bertindak sebagai pemberi bahan baku pada negara-negara maju yang nanti mengolahnya menjadi barang-barang dengan nilai tambah berkali-kali lipat.
Maka dari itu, optimalisasi sumber daya manusia dalam pengolahan sawit sangat diperlukan. Dalam hal ini, kita dapat menjadikan perguruan tinggi yang fokusnya di bidang teknik, pertambangan, dan pertanian dan juga ekonomi sebagai wadah kajian energi terbarukan ini pada generasi muda bangsa. Sebagaimana yang telah kita ketahui, di Indonesia kaya akan generasi emas yang penuh dengan ide-ide brilian, kreatif dan inovatif. Dengan mengkolaborasi kemampuan insan-insan cendekiawan tersebut, maka dengan mudah Indonesia akan menajdi negara maju dan mandiri. Dan dengan kekayaan sawit, Indonesia akan mampu menjadi negara yang mandiri dalam hal pemenuhan masalah energi. Energi terbarukan berupa bioetanol lignoselulosa sawit ini adalah suatu jembatan emas untuk menuju Indonesia sejahteran di masa depan.

http://www.bankmandiri.co.id/
"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar