Selasa, 13 November 2012

INDUSTRI BATIK, INDUSTRI KREATIF MENUJU INDONESIA


Dewasa ini, industri kreatif tengah menjadi topik utama yang digemakan dalam dunia industri. Berbagai kebijakan dan program pemerintah dicanangkan dalam rangka mewujudkan industri kreatif Indonesia yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran dan untuk perkembangan ekonomi Indonesia. Industri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian, berbagai pihak berpendapat bahwa “kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama” dan bahwa “industri abad kedua puluh satu akan tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi”.
Industri Kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif juga dikenal dengan nama lain Industri Budaya (terutama di Eropa) atau juga Ekonomi Kreatif . Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Dengan demikian, industri Batik Indonesia yang merupakan ikon khas budaya Indonesia di kancah internasional dan merupakan industri yang dikembangkan langsung oleh masyarakat juga termasuk pada industri kreatif.  Dalam hal ini industri Batik dapat dikategorikan dalam kelompok industri kreatif dengan katagori:
1.      Kerajinan: kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi dan distribusi produk kerajinan antara lain barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, aksesoris, pandai emas, perak, kayu, kaca, porselin, kain, marmer, kapur, dan besi.
2.       Desain: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, interior, produk, industri, pengemasan, dan konsultasi identitas perusahaan.
3.      Desain Fashion: kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
Batik Indonesia secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun batik terus mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad ke-XX , sedangkan batik cap baru dikenal setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.
Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia. Batik Indonesia juga merupakan produk unggul dalam negeri yang telah mengantarkan Indonesia ke kancah Internasional. Hal ini dapat dilihat dari penetapan UNESCO  bahwa Batik Indonesia, secara keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
Penetapan UNESCO tersebut pastinya sangat mendukung terhadap perkembangan Industri batik di Indonesia, baik dalam negeri maupun ke luar negeri. Selain faktor tersebut, terdapat juga faktor lain yang menjadikan industri Batik Indonesia terus berkembang, yaitu kekhasan yang dimiliki batik dan juga karena batik termasuk pada kebutuhan primer manusia ( bahan pakaian).  Kekhasan batik terletak pada penggunaan motif-motifnya. Penggunaan motif ini menunjukkan asal batik diproduksi yang sekaligus mencerminkan kebudayaan daerah tersebut. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Batik sebagai Bahan pakaian merupakan kebutuhan dasar manusia di seluruh dunia. Ditambah lagi dengan kecendrungan manusia untuk selalu tampil indah  maka merupakan suatu kewajaran jika saat ini batik merupakan ikon khas Indonesia yang mampu  mendobrak pasar dunia dalam hal mode dan fashion.
Dalam industri kreatif, Konsep pengembangan ekonomi kreatif oleh pemerintah telah mendapatkan respon positif di beberapa daerah di Indonesia. Inisiatif dari pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yang mendukung rencana pengembangan ekonomi kreatif di daerahnya menjadi indikator bahwa daerah tengah berlomba dalam memunculkan karakteristik atau identitas lokal sebagai daya tarik daerahnya. Dengan pengelolaan yang baik terhadap warisan budaya dan kreativitas dari masyarakat maka proses pengembangan ekonomi kreatif di daerah akan berjalan dan berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan daerahnya. Begitupula dalam hal pengembangan industri batik.
Setiap daerah penghasil batik di Indonesia tengah berlomba-lomba dalam mengembangkan industri batiknya. Hampir setiap daerah di Indonesia saat ini memiliki batik dengan corak dan motifnya sendiri, saat ini batik seakan telah menjadi raja di kancah budaya dan industri Nasional yang pemasarannya terus melaju tidak hanya dalam negeri.  Cakupan industri batik pun semakin meluas, seiring dengan inovasi dan ide kreatif para pengarajin di daerah masing-masing yang selalu menginginkan hasil terbaik dari produksi batiknya. Dari warna yang awalnya hanya terdiri satu warna, kini sudah bisa kita dapati  batik dengan berbagai paduan warna yang menarik. Jika awalnya batik hanya berfungsi sebagai bahan pakaian saja, saat ini dapat kita temui batik juga dijadikan sebagai bahan tas,  penghias sepatu dan  berbagai macam aksesoris lainnya.
Perkembangan industri Batik Indonesia yang cukup pesat ini merupakan suatu lapangan pekerjaan yang telah banyak menyerap tenaga kerja. Perlu diketahui bersama bahwasanya para pengrajin batik ini tidak hanya didominasi oleh mereka yang sudah dewasa ataupun lansia. Saat ini para pengarjin batik juga didominasi oleh mereka yang notabene-nya masih remaja.  Sebuah contoh, di sebuah kota kecil di Pulau Madura, yaitu Kota Pamekasan yang telah ditetapkan sebagai Kota Batik pada tahun 2008, terdapat sebuah kampung (Banyumas, Desa Klampar  Kecamatan Proppo- Pamekasan) yang merupakan perkampungan pengrajin batik.  Hampir seluruh masyarakat di kampung itu adalah pengrajin batik.  Di kampung itu industri batik masih tergolong home industry, jika kita berkunjung ke tempat itu akan kita temui setiap rumah memproduksi batik.
Bagi masyarakat di kampung itu, membatik adalah sumber penghidupan mereka. Merupakan fenomena yang unik dan inspiratif ketika para remaja di daerah tersebut juga membatik dan biasanya hasil batik dari para remajalah yang menjadi acuan bagi para pengarajin lainnya yang lebih dewasa dari mereka. Hal ini dikarenakan, batik hasil dari para remaja memiliki motif dan warna yang lebih inovatif.  Perlu kita ketahui sebagian besar para remaja di daerah tersebut adalah remaja yang putus sekolah. Tentunya hal ini dikarenakan tempat yang bisa dibilang pedalaman dan juga karena keadan ekonomi. Di sinilah letak peranan industri batik sebagai industri kreatif yang mampu menyerap tenaga kerja dari para remaja yang pendidikannya terputus tersebut yang juga menjadi mediasi kreasi dan keahlian mereka.  Dengan demikian, para remaja dapat menjadi insan produktif yang dapat menghasilkan barang dan jasa guna kemajuan dan kesejahteraan ekonomi Indonesia. Tidak hanya itu saja, tapi industri batik sebagai industri kreatif juga merupakan wahana kreasi dan inovasi bagi para pengrajin batik dalam rangka meningkatkan nilai jual Batik Indonesia baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. 

http://www.bankmandiri.co.id/
"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“
tag  <Lomba Blog HUT Bank Mandiri>

PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIOETANOL BERBAHAN DASAR LIGNOSELULOSA SAWIT SEBAGAI JEMBATAN EMAS MENUJU INDONESIA MANDIRI


Masalah energi saat ini telah menjadi masalah global. Pengembangan energi alternatif  dan energi terbarukan pun tengah menjadi tranding topic di berbagai media. Penguasaan ruang, waktu, dan perkembangan teknologi menuntut semakin besarnya sumber energi yang diperlukan. Sebut saja alat transportasi seperti mobil atau bus, alat komunikasi seperti laptop, handphone, televisi, peralatan rumah tangga dan masih aneka produk kemajuan teknologi lainnya.
Dewasa ini, pemenuhan energi yang bersumber dari sumber daya alam (energi fosil) masih menjadi perihal utama dalam kehidupan sedangkan ketersediaaan energi fosil tersebut semakin lama semakin memprihatinkan. Fenomena nyata adanya krisis  BBM yang kian marak terjadi di berbagai daerah dan pelosok di tanah air merupakan suatu indikator bahwa cadangan energi fosil yang dimiliki dunia khususnya Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Cadangan minyak bumi diperkirakan akan habis sekitar 12 tahun lagi, gas tinggal 30 tahun, sementara batu bara bisa dimanfaatkan hingga 70 tahun ke depan. Hal ini dikarenakan ketersediaan energi yang disediakan alam terbatas, butuh pulahan dan bahkan ratusan tahun untuk memperbaruinya, sedangkan ketergantungan masyarakat terhadap energi semakin hari semakin meningkat.
Saat ini, kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar bertumpu pada bahan bakar fosil. Kebutuhan energi nasional masih ditopang oleh minyak bumi sekitar 51,66 persen, di urutan berikut gas alam 28,57 persen, dan batu bara 15,34 persen.  Hal ini menunjukkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah menjadi masalah besar dan perlu solusi yang mendesak.  Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Inilah peraturan pendorong pengembangan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Dr. Agus Haryono, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (1/5). Ia mengatakan, tahun 2025 pemenuhan kebutuhan energi Indonesia diharapkan 17 persennya berasal dari sumber-sumber energi baru terbarukan. Maka dari itu, pengembangan energi alternatif berupa energi terbarukan dan konservasi energi yang lebih dikenal dengan istilah  pengembangan energi hijau sangat diperlukan. Diantaranya yaitu, pemanfaatan bioetanol berbasis lignoselulosa dari sawit dapat menjadi alternatif penggunaan BBM.
Adapun yang dimaksud dengan energi hijau adalah energi bersih non fosil yang berasal dari alam dan dapat diperbarui. Energi hijau ini bisa dari bahan nabati, air, angin, matahari, sampah, hydrothermal, hydropower, geothermal hingga gelombang. Karena energi hijau ini merupakan energi bersih non fosil, maka dalam penggunaannya ia tidak menambah polutan atau cemaran ke atmosfer kita dan bioetanol merupakan salah satu contoh energi hijau yang tengah populer saat ini. Secara definisi ilmu kimia bioetanol adalah sejenis alkohol (etanol) yang diproduksi dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku nabati.
Bioetanol berbasis lignoselulosa dari sawit yang merupakan bioetanol berbahan dasar  lignoselulosa non pangan merupakan salah satu solusi terbaik untuk mejawab krisis energi di Inodonesia. Hal ini dikarenakan potensi limbah sawit Indonesia begitu besar,  Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan pelepah kelapa sawit di Indonesia cukup tersedia melimpah.  Luas perkebunan Indonesia yang mencapai 8,4 juta hektare dapat menghasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka dalam satu ton TKKS etanol yang dihasilkan bisa sebanyak 150 liter.
Sejak pertengahan 2011 lalu, LIPI bekerja sama dengan KOICA dengan bantuan Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Changhae Energeering mulai merintis penelitian dan pembangunan sebuah pilot plant. Pilot plant ini dirancang mampu menghasilkan etanol dengan kemurnian 99,5 persen sebanyak sepuluh liter per hari.
Dewasa ini, bioetanol sekarang menjadi populer sebagai bahan bakar alternatif yang mulai gencar dikembangkan oleh masyarakat. Bioetanol sudah mulai banyak dikembangan oleh pengusaha UKM karena dapat dilakukan oleh industri skala kecil atau rumahan, dengan modal investasi yang relatif kecil. Bioetanol dapat diproduksi oleh siapa saja yang berminat dan di masa depan bahan bakar nabati termasuk bioetanol akan berkembang secara skala kerakyatan dan pemasarannya pun tidak sulit karena bisa langsung digunakan oleh pengguna akhir. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi produsen energi terbarukan berupa bioetanol lignoselulosa dari sawit.
Saat ini yang diperlukan adalah optimalisasi dalam pengolahan serta pemanfaatan lignoselulosa sawit menjadi bioetanol. Mengingat kekayaan Indonesia  akan sawit cukup berlimpah, tentu tidak menutup kemungkinan negara-negara lain akan mencoba untuk memanfaatkannya juga sebagai peluang bisnis. Seperti halnya yang telah terjadi pada kekayaan alam Indonesia lainnya. Cukup bagi kita belajar dari kesalahan masa lalu, dimana Indonesia hanya seakan menjadi tempat pembantu di rumah sendiri, sebagai penyedia kekayaan alam, sedang yang mengolah dan mendapatkan untung besar adalah negara lain. Selain tempat penyedia, Indonesia selama ini hanya bertindak sebagai pemberi bahan baku pada negara-negara maju yang nanti mengolahnya menjadi barang-barang dengan nilai tambah berkali-kali lipat.
Maka dari itu, optimalisasi sumber daya manusia dalam pengolahan sawit sangat diperlukan. Dalam hal ini, kita dapat menjadikan perguruan tinggi yang fokusnya di bidang teknik, pertambangan, dan pertanian dan juga ekonomi sebagai wadah kajian energi terbarukan ini pada generasi muda bangsa. Sebagaimana yang telah kita ketahui, di Indonesia kaya akan generasi emas yang penuh dengan ide-ide brilian, kreatif dan inovatif. Dengan mengkolaborasi kemampuan insan-insan cendekiawan tersebut, maka dengan mudah Indonesia akan menajdi negara maju dan mandiri. Dan dengan kekayaan sawit, Indonesia akan mampu menjadi negara yang mandiri dalam hal pemenuhan masalah energi. Energi terbarukan berupa bioetanol lignoselulosa sawit ini adalah suatu jembatan emas untuk menuju Indonesia sejahteran di masa depan.

http://www.bankmandiri.co.id/
"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“
 

OPTIMALISASI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PADA MAHASISWA SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN INDONESIA


Alam Indonesia menyimpan kekayaan yang berlimpah ruah dengan kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan alam baik hayati maupun tambang tersimpan dibalik lautan lepas, tanah yang subur serta iklim tropis yang menjadikan apa yang tertanam menjadi tumbuh segar. Tak berlebihan jika kemudian Indonesia diibaratkan seperti zamrud di khatulistiwa, kaya nan hijau alamnya. Mungkin hal ini juga yang kemudian menarik perhatian para penjajah dari belanda dan jepang yang sempat beberapa dekade menguasai kekayaan alam Indonesia dan meraup keuntungan dengan eksplorasi hasil bumi Indonesia.  
Tapi ironisnya, kekayaan alam yang demikian melimpah yang sejatinya sangat berpotensi  untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, nyatanya tidak mampu mendangkalkan jurang kemelaratan masyarakat Indonesia sejak zaman orde lama sampai reformasi saat ini. Begitu miris kenyataannya, sudah sejak lama Indonesia merdeka dari tangan-tangan jahil para penjajah, tapi sampai saat ini sepertinya Indonesia belum bisa melangkah sendiri untuk mewujudkan kemandiriannya dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakatnya. Ya, Indonesia belum sepenuhnya lepas dari ketergantungannya  pada negara-negara lain yang sejatinya mereka pernah menorehkan luka dan kepedihan di benak masyarakat Indonesia.
Salah satu bukti ketidakmandirian Indonesia yang sampai saat ini masih ada dan bahkan semakin meningkat, tercermin di dalam pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Menurut data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI),  hingga tahun 2012, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri telah mencapai 3.998.592 orang dan itu tentunya belum mencakup jumlah TKI ilegal yang sampai saat ini belum ter-cover jumlahnya.
Adapun salah satu alasa utama seseorang memutuskan untuk menjadi TKI adalah tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini disebabkan minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia utamanya bagi masyarakat golongan bawah yang memiliki keterampilan pas-pasan, dan ada pula sebagian TKI yang beralasaan karena nominal gaji yang ditawarkan oleh negara lain lebih menjanjikan. Meski demikian, jika para TKI ini  bisa memilih,  rasanya bekerja di negara sendiri lebih diminati oleh kebanyakan TKI daripada harus keluar dari kampung halaman. Menjadi TKI, banyak hal yang harus dipertimbangkan, diantaranya yaitu:  jauh dari sanak keluarga dan meninggalkan anak-anak, yang sangat berpotensi akan menjerumuskan anak ke dalam lembah hitam pergaulan remaja kekinian sebagai akibat minimnya perhatian dan pengawasan orang tua. Belum lagi kabar tragis para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang sampai saat ini masih belum bisa teratasi. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir, mulai dari kasus penyiksaan, pemerkosaan hingga yang paling tragis yaitu maut menjemput mereka. Hal ini tentunya menjadi momok yang amat menakutkan bagi para TKI Indonesia yang pada akhirnya membuat hidup mereka di luar sana penuh kekawatiran dan ketidaktenangan.
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah China, India dan Amerika Serikat. Hingga tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 244.775.796  jiwa. Jumlah penduduk yang demikian banyak ini jika tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang cukup maka akan berakibat pada terciptanya masalah-masalah baru yang bertalian erat dengan perekonomian masyarakat. Realita ini dapat dilihat pada besarnya jumlah pengangguran di Indonesia. Sampai saat ini, jumlah pengangguran di Indonesia lebih dari 7,24 juta orang. Lebih ironis lagi, dari sekian banyak jumlah penggangguran yang ada ternyata ditemui sebagian yang masih memiliki potensi secara akademik dan bahkan telah lulus sarjana.  Hal ini dikarenakan minimnya ketersedian lapangan kerja sementara jumlah peminat sangat banyak.  Sehingga, bagi mereka yang tidak bisa bertahan dalam arena persaingan hebat itu, harus bersabar diri dan menerima dengan lapang dada status pengangguran terdidik yang diselendangkan di pundaknya.
Inilah realitas miris yang sudah pasti menambah pekerjaan rumah para petinggi negara ini. Tapi tidaklah bijak jika pemerintah hanya menyudutkan masyarakat saja dan menganggap mereka sebagai sumber dari masalaha ini dengan beralasan minimnya potensi yang mereka miliki. Jikapun harus demikian adanya, barangkali pemerintah juga perlu memfokuskan perhatiannya pada masyarakat yang tinggal di pinggiran kota atau pelosok desa, dimana sebagian besar dari mereka tidak pernah tampil di panggung pendidikan formal saat masa remaja dan kanaknya. Hal ini disebabkan minim dan bahkan tidak adanya biaya sehingga ketika dewasanya mereka harus berpangku tangan karena tidak ada perusahaan yang membutuhkan kiprahnya. Maka dari itu, pemerintah dalam mencari problem solving dari masalah ini haruslah mengupayakan bisa menyentuh masyarakat secara keseluruhan, baik perkotaan ataupun pedesaan, terdidik ataupun yang tidak terdidik. Sehingga, arah perekonomian Indonesia nantinya benar-benar bisa dirasakan oleh rakyat.
Fenomena yang memprihatinkan, mengingat fakta bahwa Indonesia adalah zamrud khatulistiwa yang limpah dengan kekayaan alam dan budaya tapi sampai saat ini masih belum menikmati keberlimpahannya. Ini adalah sebuah bukti bahwa manfaat ekonomis yang terbesar memang bukan berpihak kepada siapa yang memiliki atau memperoleh kekayaan alam tapi berpihak pada siapa yang mampu memasarkan produk dengan nilai tambah terbesar. Itu artinya indoneia sampai saat ini belum memiliki pelaku pasar yang cukup yang bisa mengelola dan memasarkan kekayaan yang dimilikinya.
Dalam menyikapi masalah tersebut, nampaknya pendidikan kewirausahaan yang bertujuan membangun kecakapan entrepreneurship (kecakapan mengelola pasar) perlu dikenalkan sejak dini pada generasi muda. Dalam hal ini, mahasiswa yang notabene-nya sebagai pemuda dan kerap dielu-elukan sebagai The agent of change, the agent of social control and iron stock,  merupakan benih unggul yang diharapkan mampu membawa perubahan lebih baik bagi Indonesia. Selain sebagai aset berharga untuk masa depan Indonesia, mahasiswa juga merupakan intelektual muda dan insan mahir yang sangat memungkinkan untuk mengemban amanah ini.           
Perlu diketahui bersama bahwa pendidikan entrepreneurship pada mahasiswa diorientasikan untuk membentuk kader-kader entrepreneur. Sumber daya manusia yang kaya dengan ragam potensi dimasukkan dalam cetakan yang seragam, yaitu dibentuk untuk jadi entrepreneur. Hal ini bertujuan agar nantinya mereka bisa mengisi pos-pos masyarakat dan membebaskan mereka dari keterlilitan masalah ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja baru dan memutuskan mata rantai ketidakmandirian negara Indonesia. Namun, hal ini nyatanya masih sangat jauh dari apa yang ada sekarang. Pola pendidikan yang kita terapkan saat ini belum mengarah pada terbentuknya kader-kader entrepreneur. Jika pun ada, hanya segelintir saja dan itu pun belum juga maksimal.
Selama ini, pendidikan entrepreneurship yang ada di perguruan tinggi hanya sebatas selingan dan hanya sebagai  topik seminar. Sedang implementasi kearah yang lebih real tentang kewirausahaan belum begitu disentuh oleh kebanyakan mahasiswa.  Pendidikan kita kebanyakan masih mempertahankan dan berkutat pada bagaimana mempersiapakan kader dan lulusan yang cakap intelektualnya sehingga mudah diterima di perusahaan-perusahan pemerintah ataupun swasta. Hal itu juga yang kemudian menyumbat laju “greget” pada jiwa mahasiswa untuk menekuni wirausaha.   
Maka dari itu, pendidikan entrepreneurship pada mahasiswa perlu kiranya dimaksimalkan dan lebih diproporsionalkan. Harapannya, mahasiswa akan tergerak untuk menjadi entrepreneur masa depan nantinya. Selain itu,  kampus sebagai sarana tranformasi nilai-nilai pengetahuan juga diharapkan dapat memperkaya keterampilan mereka dengan beragam teori mengenai kewirausahaan sekaligus menyediakan sarana berwirausaha. Sehingga, mahasiswa benar-benar mendapatkan asupan teori dan pengalaman sebagai bentuk latihan dini sebelum akhirnya mereka benar-benar terjun di medan yang sesungguhnya.
Dan sangat disadari bahwa hal itu tidak akan rampung dalam sekejap. Butuh rentang waktu yang amat panjang untuk bisa mewujudkan cita-cita besar bangsa ini. Tetapi, optimisme dan harapan besar tetap harus kita selempangkan, utamanya di pundak para generasi muda. Perlu kita ingat bahwa tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan generasi muda kita mampu merobohkan tebing tinggi yang selama ini memisahkan masyarakat Indonesia dengan kesejahteraan hakikinya. Semoga! 

"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“