Jumat, 23 Desember 2011

ARGUMENTUM AUCTORITATIS MENYUMBAT PERTUMBUHAN BERPIKIR KRITIS


Argumentum Auctoritatis adalah suatu kesesatan yang timbul dalam penalaran akibat menerima atau menolak sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, tetapi berdasarkan pada siapa yang mengemukakannya. Ditinjau dari gerak pengaruhnya terhadap pola pikir manusia, Argumentum Auctoritatis disinyalir dapat menyumbat serta mematikan ruang gerak berpikir kritis seseorang, sehingga sebagian para ahli mengklaim bahwa Argumentum Auctoritatis merupakan penyakit pemikiran yang mesti diwaspadai.  
Sampai saat ini, penyakit pemikiran ini telah menjangkit banyak golongan, dan hanya segelintir orang saja yang dapat menangkalnya. Guru, Mahasiswa dan Pelajar yang notabene-nya merupakan kaum terdidik, juga tidak lepas dari jaring perangkap penyakit ini. Lebih-lebih masyarakat umum dimana khazanah keilmuan dan wawasan berpikirnya masih sangat minim, sehingga dalam menyikapi suatu gagasan; apakah gagasan itu benar atau salah, mereka banyak mengacu dan bergantung pada siapa yang mengemukakannya.
Mengutip sebuah kasus yang ditulis oleh Idrus Sahab dalam bukunya Beragama dengan Akal Jernih, Jakarta, 2007, bahwa seorang siswa yang tidak begitu pengalaman dalam hal menulis puisi mencoba membuat sebuah puisi tentang alam. Kemudian, karya itu ia deklamasikan didepan teman-temannya yang kebetulan hobi puisi dan lebih senior mengenai puisi. Begitu membaca, sang temen menertawai puisinya. Merasa dirinya dilecehkan, sepulang sekolah ia kembali  menulis puisi lagi. Di bawah judul ia tulis: “W.S. Rendra” dan keesokan harinya, ia deklamasikan puisi tersebut di depan temen-temannya. Seraya membaca, kepala teman-temannya tampak bergeleng-geleng dan mulutnya berdecak kagum. Mendengar puisi yang dibacakannya bagus, teman-temannya kemudian membuat komentar terhadap puisinya serta memujinya. Setelah mendengar komentar panjang lebar, barulah ia mengaku bahwa puisi itu adalah buah karyanya sendiri. Sontak saja teman-temannya marah dan kecewa, seraya berkata “sialan! Kenapa kamu tidak katakan dari tadi?”.
lantas pertanyaan yang muncul setelah membaca kasus diatas adalah ; apa yang akan terjadi jika sebelum mendeklamasikan puisi, sang penulis puisi mengatakan bahwa ia yang membuatnya?, sudah barang tentu respon mereka akan sayu, layaknya puisi yang sebelumnya. 
***
Gagasan yang lahir dari seorang Professor Doktor, tentu akan sangat berbeda dengan gagasan yang lahir dari olah pikir seorang Mahasiswa semester awal, baik kualitas maupun kuantitasnya. Namun untuk menetapkan gagasan siapa yang paling benar, kita harus tetap menganalisis dan mengklarifikasi terlebih dahulu, bukan “asal telan” saja karena gagasan tersebut berasal dari seseorang dengan seabrek title dan segudang ilmu pengetahuan.
Tidak kita pungkiri, bahwa seorang Profesor Doktor telah banyak merasakan pahit-manisnya dunia  keilmuan, sehingga untuk melejitkan gagasan nampaknya mereka lebih bisa beberapa tingkat di banding seorang Mahasiswa semester awal. Namun kita juga tidak menutup mata bahwa sekaliber Profesor Doktor sekalipun, tetap saja dia adalah manusia layaknya manusia pada umumnya yang juga sama-sama memiliki “emosi” dalam menyikapi sesuatu. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka dapat melakukan upaya-upaya distorsi (memutar balikan fakta) terhadap suatu kebenaran hanya demi memuaskan emosi pribadinya. Ditambah lagi fitrah manusia yang tidak pernah lepas dari salah dan dosa, nampaknya kian menambah deretan faktor yang mengharuskan kita melakakukan analisis klarifikatif terhadap suatu gagasan.
Oleh sebab itu, lebih baik kiranya jika kita sedikit lebih kritis terhadap suatu gagasan dengan terlebih dahulu melakukan analisis sebelum kita mengakui kebenaran suatu gagasan.  Disamping itu, kita juga harus tetap waspada terhadap menularnya penyakit Argumentum Auctoritatis yang hanya akan  membuat kita menjadi pribadi  follower, tidak kreatif serta mematikan ruang gerak berpikir kritis diri kita.
Di akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan apa yang pernah dikatakan oleh Algazel dalam salah satu bukunya, “janganlah mengenali kebenaran dari manusianya, tetapi kenalilah dari kebenaran itu sendiri, nanti engkau akan mengenali ahlinya”. Wallahua’lam
 Written by : Alfarobi
14 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar